August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31            
Powered by Friendster Blogs
Member since 05/2005

Die Exkursion nach Pongkor

Akhirnya kita jalan-jalan juga, menembus gunung Salak di tambang bawah tanah Pongkor, Bogor. Meskipun masih kelelahan habis mudik ke Semarang tanggal 9-10 Agustus, dini hari jam 01.00 WIB tanggal 12 harus sudah berangkat lagi. Zonder tidur dan mandi pagi, kita pun berangkatlah...

Sekitar pukul 06.30 kita sudah sampai di lokasi, lebih awal dari target.  Setelah sarapan,  kami mengikuti  pengarahan dari pihak Antam. Semuanya pun berganti pakaian safety standar: overall, helm, lampu, dan sepatu boot. Pukul 09.00, penjelajahan tambang pun dimulai. Diselingi ibadah dan makan siang, penjelajahan diteruskan sampai pukul 15.00 WIB.

Setelah tatap muka dan tanya jawab dengan pihak Antam, kami pulang pukul 16.30 WIB. Diselingi makan malam, kami pun sampai di kampus pukul 22.30 WIB. Capek bener...

                            

Officially ITB!

Setelah melalui perjuangan selama kurang lebih 3 jam, termasuk 10 menit berdiri mengantre, akhirnya resmilah kami menjadi mahasiswa ITB. Agak ironis, mengingat sudah 4 bulan berlalu sejak kami menginjakkan kaki di sini. Bahkan, akhir bulan ini semua kegiatan perkuliahan sudah selesai, termasuk ujian akhir. Namun, baru kali ini kami mendapatkan NIM. Yah, namanya juga program khusus. Karena kelas reguler harus dimulai 19 Agustus, maka kami harus siap-siap angkat kaki dari bumi ITB. Sementara pengumuman "eliminasi" ternyata masih tertunda entah sampai kapan. Rasanya kami seperti anak hilang, atau paling tidak setengah hilang di sini. Belum lagi nilai-nilai UTS yang hasilnya bagiku lebih baik tidak diumumkan (saking jeleknya), dan beasiswa periode ini yang tak kunjung turun. Well, it's never been easy to be me...

Countdown to... Elimination

Mendekati akhir Juli berarti semakin dekat saat 'eliminasi' akhir untuk 5 besar yang akan mengikuti program joint degree di Jerman selama 10 bulan mulai Oktober 2008 - Juli 2009. Sebuah impian bagi semua peserta program ini, yang seharusnya tidak terjadi. Namun, seperti halnya semua hal yang "too good to be true", begitu juga situasi yang kini dihadapi. Antara kesiapan penyelenggara dan sinkronisasi dengan ketiga institusi penyelenggara membuat sebuah rancangan yang begitu bagus menjadi nyaris sebuah lelucon. Situasi penuh ketidakpastian yang tercipta membuat rasa ketidakpuasan, ketidakpercayaan, dan yang pasti, perasaan saling curiga antarpersonal. Dan saat kelima nama itu diumumkan, maka berakhir sudahlah semua kebersamaan itu, semua perasaan senasib itu. Dan memang pada akhirnya semua akan kembali ke alamnya masing-masing. Siapapun yang terpilih nanti, beban berat sudah pasti dihadapi. Bagi lima prang yang tersisih, bergantung pada pribadi, akan rasa puas ataupun tidaknya. Bagi Penulis sendiri, alasan untuk lolos atau tidak lolos sama besarnya, sehingga apapun hasilnya tak jadi soal. Tentu saja Penulis tidak bisa mewakili 9 orang lainnya.

Neverending Schedule

Semula, banyak yang mengira periode kuliah di Bandung ini akan jauh lebih santai dibandingkan di Jogja karena jumlah matakuliah yang lebih sedikit (enam), dan dosennya tetap (di Jogja ada tiga dosen per mata kuliah, dan ada delapan mata kuliah). Belum lagi kuliah yang diberikan dalam Bahasa Indonesia. Namun ternyata anggapan itu akhirnya terkubur dalam dengan kenyataan berikut: ada jadawal Les Bahasa Jerman dua kali seminggu empat jam per pertemuan, untuk dua kelompok, yang berarti sudah memakan jadwal 16 jam seminggu. Kemudian ada kegiatan seperti kursus dan seminar minggu kemarin (30 Juni - 2 Juli). Belum lagi, dosen-dosen yang sedang laris-larisnya menyumangkan jasa untuk dunia pertambangan yang sedang naik daun saat ini.

Belum lagi mengingat tradisi di sini yang tidak mengoordinasi pelaksanaan UTS secara bersamaan. Akibatnya, rentang jarak antara UTS satu mata kuliah dan yang lain terentang sampai hampir sebulan. Parahnya, beberapa teman kami terserang penyakit mulai lupa (jadwal), sampai yang sakit beneran. SIstem informasi penjadwalan pun semakin melantur, sampai Penulis pun menjadi korban Jumat kemarin. Ya, bahkan hidup di ketidakpastian menjadi tidak terlalu menarik sekarang. Just wait for the judgment day now...

It's Top Ten, My Friend!

Well, satu tahap berhasil dilalui setelah Jumat kemarin diumumkan 10 besar dari 20 orang kelas RE. Dan seleksi selanjutnya menjadi 5 besar akan dilakukan oleh pihak Uni Karlsruhe. Tinggal selangkah lagi, mungkin. Namun sebenarnya hanyalah awal dari 'perjuangan' panjang selama 10 bulan terhitung Oktober depan. Yang paling memusingkan adalah thesis, yang harus disiapkan mulai sekarang termasuk data-datanya, sedangkan penegtahuan mengenai 'what the hell is RE' baru akan didapat setelah lima bulan kuliah nanti. Benar-benar sebuah 'Mission: Impossible'. Harusnya mereka yang benar-benar terpilih jadi 5 besar dan berhasil menyelesaikan program ini tepat pada waktunya dengan baik layak masuk Guiness Book of World Record atau minimal MURI untuk 'Mahasiswa Paling Pecas Ndahe'. And now, back to write a statement of purpose...

Mulai Padat...

Kursus Bahas aJerman super intensif sudah dimulai sekitar dua minggu, dengan target bulan September bisa lulus sertifikat A2. Nilai-nilai dari UGM  mulai bermunculan, begitu juga nilai EPT dan TPA ITB, membuat semua kemungkinan soal 5 besar ke Jerman mulai bersliweran. Alhamdulillah, sementara nggak ada yang ngulang meski nilai terhitung pas-pasan. Ujian midsemester mulai digelar, dan BLT (Beasiswa Lewat Transfer) sudah mengering. Minggu-minggu ke depan akan jadi sangat panjang...

First Month in ITB

Tak terasa sudah sebulan kembali ke Bandung untuk kuliah di ITB. Kesan pertama, tidak ada internet (gratis)! Semuanya pake password. Berhubung mahasiswa jalur 'khusus' alias potong kompas, maka registrasi dan segalanya pun dilakukan serbakilat dan rinci, sampai-sampai selembar surat pun bisa menghalangi seluruh proses. Registrasi belum selesai artinya belum dapat NIM, belum dapat NIM berarti nggak dapet password, dan nggak dapat password berarti nggak ada internet di kampus.
Entah mengapa peringatan dini dari seorang teman tentang perbedaan UGM dan ITB khususnya MST dan MRP menjadi kenyataan. Jadwal di sini sangat rapi, maklum jumlah mata kuliahnya lebih sedikit. Di lain pihak, SKS bertambah tiap mata kuliah berarti jam kuliah menjadi lebih panjang, dan kebanyakan sore. Fasilitas...? yah memang harus diterima apa adanya, masih bagus dibayari kuliahnya. Nilai TOEFL dari luar ITB tidak diakui, berarti harus tes lagi (dan bayar lagi).
Sampai hari kemarin, saat kepastian mengenai nasib ke luar negeri (Jerman) dipastikan. Hanya 5 dari 20 orang yang berhak mengikuti program ini sepenuhnya, kiuliah di Universitat Karlsruhe selama 10 bulan. LIma belas lainnya hanya mendapat opsi ke luar negeri selama 2-3 bulan tanpa harus kuliah karena anggarannya tidak cukup mendanai 15 orang kuliah tamu selama 5 bulan. Syarat ke luar negeri: TOEFL internasional harus 550 dan sertifikat German A1 dan A2 (untuk mendapatkan visa). Akhir bulan Mei akan diajukan 10 nama untuk diseleksi menjadi maksimal 5 orang yang berhak mengikuti program Resource Engineering di Karlsruhe. Alhasil, selama empat bulan ini kursus bahasa Jerman akan diintensifkan dengan guru asal Goethe Institute. Ditambah lagi, semua harus mulai memikirkan topik thesis nantinya. Yang tidak terpilih ke Jerman akan langsung menulis thesis dengan deadline sampai Mei 2009, boleh di UGM maupun ITB dengan diselingi 'jalan-jalan' ke Jerman selama 2-3 bulan. Angkatan kedua dan seterusnya akan mengalami pemotongan anggaran dengan 5 besar tetap ke Karlsruhe dan 15 lainnya langsung mengerjakan thesis tanpa jatah 'jalan-jalan' ke luar negeri.

Don't Change Your Work (on Your ID)

Mungkin memang hanya kebetulan, bahwa Penulis berganti pekerjaan segera setelah memperpanjang KTP. Saat memperpanjang KTP, Penulis masih bekerja, sehingga dengan jujurnya menulis "karyawan swasta" sebagai pekerjaan pada form KTP, dan demikian pula yang tercetak. Hanya enam bulan setelah KTP baru keluar, Penulis memperoleh beasiswa untuk belajar S2, yang mencakup kuliah di luar negeri selama enam bulan. Dengan sendirinya memerlukan paspor. Nah, untuk memperoleh paspor, diperlukan selain KTP, KK, dan Akte Kelahiran juga dibutuhkan rekomendasi dari atasan atau penanggung jawab kepentingan pembuatan paspor. Yang mau liburan, ya dari biro perjalanannya, yang dinas dari kepala kantornya, yang swasta dari direkturnya, dan mahasiswa dari kepala jurusannya. Masalah terjadi karena pekerjaan pada KTP (yang masih berlaku sampai lima tahun ke depan) masih tercantum karyawan swasta, sedang keperluan membuat paspor adalah untuk studi (rekomendasi dari kepala program studi sudah terlampir...akhirnya). Di lain pihak, status karyawan sudah dilepaskan karena memang tidak bisa dirangkap (memangnya PNS, bisa tugas belajar segala...). Toh, akhirnya sedikit diakali dengan membuat surat pernyataan bermaterai (mula-mula sempat disarankan meminta surat dari kelurahan). Dan niat untuk menjadi warga negara yang baik dengan mengurus paspor tanpa perantara pun melayang sudah...

(Tips: One point for wiraswasta...Anda tak akan dimintai rekomendasi kalau bikin paspor)

Too Much Exams Will Kill You

Minggu terakhir di Jogja ternyata lumayan menegangkan. Ujian akhir trimester yang seharusnya 8 kali, sekali untuk tiap mata kuliah, berubah menjadi 14 kali, sekali untuk tiap dosen! Karena tiap mata kuliah diampu tiga dosen yang berbeda, maka hasilnya seperti ini. Setelah dosen pertama mendapat jatah saat ujian sisipan (midterm), maka dua dosen lainnya pun giliran beraksi. Alhasil, mahasiswa pun jadi 'gila'. Belum lagi, sifat ujian yang bervariasi, close dan open book, dan take-home exam. Singkat kata, thank God it's over! Now heading for Bandung on April 14th!

46 Best Ever Freeware

Menggunakan Windows memang merepotkan, belum lagi kalau diingat bahwa kita mestinya membayar untuk semua softwarenya. Sebagian dari kita sudah merasa aman saat membeli komputer atau laptop yang sudha terinstalasi Windows di dalamnya, lengkap pake stiker dan sertfikat berhologram. Namun, kita sering lupa bahwa Windows hanyalah sistem operasi, untuk aplikasi-aplikasinya (sebagian besar, apalagi yang populer) masih harus membayar lagi, untuk MS Office, AutoCAD, Photoshop, CorelDraw, dan Antivirus yang harganya berlipat-lipat kali Windows. Di lain pihak, kita masih takut-takut menggunakan Linux. Untungnya kita tidak harus menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut, atau menggunakan aplikasi berbayar. Banyak aplikasi Windows yang dapat kita gunakan secara gratis alias Freeware. Di samping itu, aplikasi open source juga memungkinkannya tersedia di Windows selain di Linux. Di lain pihak, aplikasi Freeware biasanya kurang populer karena tidak dipromosikan secara besar-besaran. Untuk memilih aplikasi gratisan terbaik pun tidaklah mudah. Untungnya, ada beberapa situs review yang bisa membantu, salah satunya adalah situs Tech Support Alert, yang menyajikan review secara berkala untuk tiap kategori freeware. Sampai bulan Maret 2008, sudah 46 kategori direview, di antaranya: antivirus, antispyware, firewall, browser, e-mail, download manager, dan lain-lain. Anda juga bisa berlangganan update review terbaru secara berkala. Dengan bantuan review ini, Anda bisa menentukan tools yang sesuai untuk komputer dan kantong Anda.